AMINA WADUD : Manuju Kadilan Gender

A. TENTANG AMINA WADUD

            Amina wadud Muhsin adalah seorang perempuan pemikir kontemporer yang dilahirkan di amerika pada tahun 1952, ia seorang guru besar (professor) pada universitas Common Wealth, di Richmond, virgina. Wadud mencoba melakukan sekonstruksi metodologus tentang bagaimana menafsirkan al-QUr;an agar dapat menghasilkan sebuah yang sensitive gender dan keadilan. Menurut Charlez Kurzman pemelitian Amina Wadud mengenai perempuan dalam Al-Qur’an yang tertuang dalam qur’an and woman muncul dalam suatu konteks histories uang erat dengan pemgalaman dan pergumulan permpuan Afrika – Amerika dalam upaya menperjuangkan keadilan gender. Elama ini sistem relasi laki-laki dan perempuan di masyarakat sering mencerminkan adanya bias patriarki sehingga mereka kurang mendapat keadilan secara proposorsional.

            Karya amina wadud tersebut merupakan bukti kegelisahan intelektualnya mengenai ketidak adilan gender dalam masyaraktnya. Salah satu sebabnya adalah pemgaruh ideologi doktrin penafsiran Al-Qur’an yang dianggap bisa patriarki. Dalam buku tersebut amina wadud mencoba melakukan dekonstruksi dan rekonstruksi terhadap model penafsiran klasik yang sangat sarat dengna bias patriarki. Asumsi dasar yang dijadikan kerangka pemikiran adalaj bahwa Al-Qur’an merupakan sumber nilai tertinggi yang secara adil mendidikkan laki-laki perempuan setara (equal). Karena itu, perintah atau petunjuk Islam yang ternuat dalam Al-Qur’an mestinya diinterpretasikan dalam konteks histories yang sepesifik. Dengan kata lain, situasi sosio-historis cultural ketika ayat Al-Qur’an itu turun harus juga diperhatikan.

B. RTITIK TERHADAP METODE DAN KATEGORI TAFSIR

            Ada beberapa letupan pemikiran  yang segara, cerdas dan sangat kritis dari amina wadud:

  1. tidak ada penafsiran uang benar-benar obyektif. Menurut wadud, sebenarnya selama ini tidak ada suatu penafsiran yang benar-benar objektif karena sang penafsir saring terjebak berbagai prejudicenya sendiri sehingga kandungan teks menjadi tereduksi dan terdistorsi maknanya. Kemudian Wadud mencoba melakukan riset mengenai panfsiran alqur’an, terutama yang terkait dengan isu-isu gender yang bertujuan agar penafsiran Al-Qur’an mempunyai makna dalam kehidupan perempuan Al-Qur’an
  2. kategirisasi penadfsiran. Menurut wadus penafsiran-penafsuran mengenai perempuan elama ini dapt dikategorikan menjadi tiga corak : pertama, afsir tradisional. Menurut wadud tafsir ini menggunakan pokok bahsan sesuai dengan minat dan kemampuan mufassirnya, seperti hukum (fiqih), nahwu, sharaf, sejarah tawawuf fan lain sebagainya. Tafsir ini bersifatatomistic astinya, penafsiran itu dilakukan atas ayat perayat dan tidak tematik sehingga pembahasanya terkesan persial, disamping tidak ada upaya untuk mendiskusikan tema-tema tertentu meurut Al-Qur’an sendiri. Lebih lanjut menurut wadud, tafsir model tradisional terkesan ekslusif ditulis hanya oleh kaum laki-laki yang diakomodasikan didalamnya. Padahal, pengalaman, visi dan prespektif kaum perempuan. Mestinya masuk didalamnya sehingga tidak terjadi bias patriarki yaitu tafsir yang berisi reksi para pemikir modern terhadap sejumlah hambatan yang dialami perempuan yang dianggap berasal dari Al-Qur’an. Persoalan yang dibahas dan metode  yang digunakan sering berasal dari gagasan kaum feminis dan ayat yang bersangkutan. Akibatnya, meski semangat yang dibawanya adlah pembebasan (liberation) namun tidak terlihat hubunganya dengan sumber idiologi dan teologi Islam, yakni Al-Qur’an. Ketiga, tafsir holistic yaitu tafsir yang menggunakan seluruh mwtode penafsiran dan mengaitkan dengan berbagai persoalan social, mural, ekonomi, politik, termasuk isu-isu perempuan yang muncul pada era modern. Wadud berpendapat bahwa dalam usaha memlihara relevansi Al-Qur’an dengan perkembangan kehidupan manusia, Al-Qur’an harus terus ditafsirkan ulang.

C. REKONTRUKSI METODOLOGI TAFSIR

            Setelah mengkritik berbagai masam metode dan penafsiran sebelumnya, Wadud menawarkan metode hermeneutic Al-Qur’an yang menurutnya belum pernah dilakukan orang lain. Yang dimaskud hermeneutic adalah suatu bentuk penafsiran yang selalu berhubungan dengan tiga aspek:

  1. dalam konteks apa teks itu di tulis atau dalam kaitanya dengan Al-Qur’an adalah dalam konteks apa ayat tersebut diturunkan.
  2. bagaimana komposisi tata bahasa teks (ayat) tersebut, bagaimana pengungkapannya, apa yang dikatakanya.
  3. bagaimana keseluruhan teks (ayat) weltanschauung atau pandangan hidupnya.

Sebagai langkah teknis, ketiga prinsip tersebut dapat dielaborasi sedemikian, setiap ayat yang hendak ditafsirkan harus dianalisis : (1) dalam konteksnya, (2) dalam konteks pembahasan topic yang sama dalam Al-Qur’an, (3) menyangkut bahasa yang sama dan struktur sintaksis yang digunakan diseluruh bagian Al-Qur’an, (4) menyangkut sikap benar-benar berpegang teguh pada prinsip-prinsip Al-Qur’an, dan (5) dalam konteks Al-Qur’an sebagai weltanshauung atau pandangan hidup.

            Dengan metode tersebut, wadud ingin bisa menangkap spirit dan ide-ide Al-Qur’an secara utuh, holistic dan integrative sehingga tidak akan terjebak pada teks-teks yang bersifat persial dan legal formal, karena problem penafsiran Al-Qur’an sesungguhnya adalah bagaimana memakai teks Al-Qur’an (naas) yang terbatas dengan konteks yang tidak terbatas. Menurut Wadud, penafsiran hasur mampu menagkap prinsip-prinsip fundamental yang tak berubah dari teks Al-Qur’an itu sendiri, kemudian melakukan ref;eksi untuk melakukan kreasi penafsiran sesuai dengan tuntutan masyarakat zamanya, sehingga penafsiran itu selalu fleksibel tanpa kehilangan prinsip dasarnya. Dengan begitu Al-Qur’an dapat berlaku universal dan selalu salih li kulli zaman wa makan.

D.  APLIKASI METODOLOGIS

Ada beberapa contoh penerapan model hermeneutic yang ditawarkan amina wadud:

  1. asal-usul manusia (the origins of human kind) dan kesetaraan gender.

dalam pembahasan mengenai kesetaraan laki-laki den perampuan, wadud masuk ke akar teoligis permasalahannya dan asal-usul perciptaan seperti dijelaskan Al-Qur’an, “ya ayyuhaha an-nas ittaqu rabbakum al-lazi khalaqakum min nafsi wahidin wa khalaq minha zaujaha….” (QS. An-isa’;1) juga ayat, “wamin ayatih an khalaqalakum min anfusikum azwaj litaskunu ilaiha..(QS. Ar-Rum;21),  menurut wadud kedua ayat tersebut sebenarnya hanyamenunjukkan unsure pokok kisah asal-usul manusia Al-Qur’an, tanpa ada kejelasan tentang adam dan hawa. Kata nafs dalam Al-Qur’an hanya menunjukkan bahwa seluruh umat manusia berasal dari asal-a-usul yang sama. Al-Qur’an tidak pernah menyatakan bahwa Allah memulai penciptaan manusia dengan nafs dalam arti adam, seorang laki-laki. Asal-usul penciptaan manusia menurut versi Al-Qur’an tidak pernah dinyatakan dalam istilah jenis kelamin.

            Analisis wadud yang menarik adalah mengenai fenomena pasangan (azwa) dalam awal penciptaan manusia. Menurutnya, hal itu sesuai dengan weltanschauung Al-Qur’an, yakni prinsip tauhid (keesaan Allah).al-qur’an secara jelas menyatakan bahwa segala sesuatu diciptakan berpasangan sedangkan dia yang maha pencipta tidak berpasangan. Sang pencipta hanya satu, Esa. Menurut penulis, implikasi teritis dari fenomena pasangan (azwa) dalam penciptaan manusia adalah bahwa laki-laki dan perempuan hendaknya mau bertauhid (bersatu), saling melengkapi dan saling mengisi satu dengan lain, keduanya harus dipandangi secara equal (musawab) dalam hubungan fungsional bukan structural.

            Wadud juga menepis mitos (usturah) yang terlanjur mengakar dalam masyarakat, yaitu bahwa perempuan (hawa adalah penyebab terlemparnya manusia dari surga. Anggapan ini jelas tidak sejalan dengan Al-Qur’an, karena peringatan Allah agar menjauhkan dari bujukan setan ditujukan kepada kesuana (adam dan hawa), namun kemudian keduanya memang tertipu tertipu setan (QS. Al-A’raf, 21-22)

  1. konsep nusyuz, disharmoni rumah tangga

ketika bicara tentang nusyuz, para mufasir biasanya mengintip Q.S. an-Nisa’, 34. ayat ini sering kali ditafsirkan dan dijadikan legitimasi para suami untuk melakukan tindak kekerasan terhadap isttriyang dianggap telah nusyuz. Dalam kitab fiqih atau tafsir klasik, kata nusyiz pengertianya sering ditujukan untuk istri yang tidak taat kepada suami. Menurut wadud, dalam Al-Qur’an kata nusyuz juga dapat merujuk kepada kaum laki-laki (Q.S. an-Nisa’, 128) dan kaum perempuan (Q.S an-Nisa’, 34) meski kedua kata ini sering diartikan berbeda. Ketiga merujuk kepada perempuan, kata nusyuz berarti ketidak patuhan istri kepada suami. Sedangkan ketika merujuk kepada suami berarti suami bersikap keras kepada istrinya dan tidak mau memberikan haknua. Ada solusi yang diberikan Al-Qur’an ketika terjadi nusyuz oleh laki-laki atau perempuan yaitu solusi verbal baik antara suami itu sendiri seperti dalam Q.S an_

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s